Blog Copas Informasi"www.blogcopasinformasi.blogspot.co.id" Kirim informasi anda ke email copasinformasi@gmail.com Saran dan kritik email copasinformasi@gmail.com Terima Kasih atas kunjungannya

Penyelamat MANGROVE dan BEKANTAN dari Paloh Sambas KALBAR

Di era sekarang , ternyata masih ada orang yang tergerak untuk penyelematan dan membuat kawasan konservasi melalui kantongnya sendiri. Kelompok Kalilaek yang merupakan sekelompok nelayan dari Kecamatan Paloh , Kabupaten Sambas, memiliki upaya tersebut. Kendati awalnya dicemooh, namun semakin lama, upaya ini pun diikuti oleh sejumlah masyarakat di kecamatan perbatasan Indonesia dengan Malaysia itu .  

Jika saja kelompok nelayan kalilaek di Dusun Setinggak Asin Desa Sebubus ,Kecamatan Paloh , Kabupaten Sambas Kalimantan Barat , tidak bergerak melakukan aksi penyelematan, mungkin saja suara bekantan tak terdengar lagi. Bekantan adalah salah satu spesies yang dilindungi dan endemik Kalimantan. Mungkin orang banyak bertanya seperti apa bekantan itu ? Jika melihat logo dunia fantasi –dufan, seperti itulah rupa bekantan, kera dengan hidung panjang.  “ Liat potensi yang ada di kita tu kalilaek atau bekantan.  Jadi Kalilaek itu bahasa kita nya Bekantan. Jadi tahun 2007 , waktu terbentuknya tanggul didaerah bakau , terlihat bekantan –bekantan di pemukiman penduduk. Jadi di tahun 2012 bulan oktober di tanggal 10 , kita meresmikannya jadi sudah dua tahun lah,” Ujar Dermawan . Adalah Dermawan , pendiri sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Kalilaek di Desa Sebubus Kecamatan Paloh Sambas Kalbar, yang memiliki kerinduan mengupayakan konservasi mangrove guna keberlangsungan hayati didalamnya termasuk bekantan atau dalam bahasa latinnya Nasalis Larvatus dan bahasa Inggris ilmiahnya yakni Probosics Monkey .  “Kita fokusnya di Setinggak Asin , jadi kita fokus di perlindungan hutan dan satwa , jadi untuk luas hutan mangrove kita ini 6400 hektar , dan dengan satwa endemik nya yakni bekantan yang kita coba lindungi”, cerita Dermawan. Adanya keberpihakan terhadap Keanekaragaman Hayati ini dianggap Dermawan sebagai bentuk menjaga alam. Karena selama ini hutan Mangrove yang ada di Paloh banyak yang dibabat habis untuk keperluan rumah tangga dan dijual sebagai arang.  Selain itu satwa endemik yang ada didalam kawasan mangrove pun terancam , “ jadi kita coba lindungi dengan maraknya perburuan , untuk dijadikan umpan bubu kepiting ataupun untuk dimakan. Dan yang kedua adanya pembuatan sawah baru”, jawabnya. Jarak dari rumah Dermawan ke daerah Setinggak Asin terbilang dekat sekitar 1 Kilometer , namun jalanan masuk ke lokasi cukup terjal dan licin jika berkendara roda dua.  Saya pun mencoba berkendara untuk mengamati secara langsung , apa yang sebenarnya terjadi di kawasan pembibitan mangrove , hasil kelola kelompok kalilaek ini. Kendati kondisi jalan yang harus saya lewati sangat licin dan hanya seukuran ban motor bebek atau jalan setapak namun saya cukup beruntung  bisa melihat puluhan  ribu bibit pohon bakau yang masuk dalam jenis mangrove ini.

Penanaman mangrove (bakau) swakelola.

“ Nah ini tempat pembibitan dan kebetulan juga dari dinas kehutanan ada bekerjasama dengan kita untuk 33 ribu batang. Sedangkan dari warga sendiri , ini sebetulnya swa kelola kita senidiri dan jika ditotal dengan milik dinas kehutanan berjumlah sekitar 50 ribu batang lebih”, jelas Dermawan sambil menunjuk lokasi penanaman mangrove yang dikelola kelompoknya.  Puluhan ribu bibit bakau  yang berumur 4 hingga 8 bulan ini memang sudah siap tanam. Tinggal menunggu lokasi dan warga yang akan ikut serta melakukan penanaman. Beberapa bulan lalu Kelompok Kalilaek pun pernah melakukan penanaman mangrove di Desa Mentibar , desa yang bersebelahan dengan Sebubus markas dari Kelompok Kalilaek ini.
  Sementara itu ,Rabuli , Nelayan yang saya jumpai di kawasan pembibitan mangrove dan perlindungan Bekantan yang dikelola Kelompok Kalilaek pun berkisah, jika kepedulian untuk menanam mangrove di pesisir pantai dan ditempat seharusnya bukan hanya untuk menahan abrasi saja, namun akibat kurangnya mata pencaharian para nelayan kecil yang biasa dengan mudah mendapatkan kepiting, tenngkuyung atau gondang ikan kecil bahkan udang. “kita sadar karna kita menyayangi juga habitat –habitat yang ada di pesisiran pantai tu seperti ikan nye , udang nye , kepiting, atau tengkuyung istilahnye kepahnye, kan hanya hidup di mangrove . Kalo mangrove nye habis otomatis ndak ade agik ikan kepiting tengkuyung itu, termasuk ikan –ikan nye pun berkurang , karne tempat dia (ikan dan kepiting ) di akar –akar yang ada. kalo hutan mangrove nya habis otomatis , ndak ada lagi nelayan kepiting lah”, ujar Rabuli.  Tetapi, tidak hanya untuk habitat ikan dan kepiting yang hidup di kawasan mangrove saja, Rabuli juga punya kesadaran untuk melestarikan individu bekantan yang ia ketahui semakin punah, “itukan istilah nya dah langka, kalilaek , karna bintang itu kan bakal habis kalo ndak kita selamatkan , kedepannya nanti kan ndak ada untuk diliat anak kita.  binatang itu juga tidka merusak tanaman hanya makan pucuk –pucuk an , jadi itu kita rasa tertariklah”, pungkasnya.

Konservasi Bekantan ala masyarakat.


Kalilaek atau Bekantan atau dalam bahasa ilmiahnya Probosics Monkey yang merupakan satwa endemis Kalimantan ini memang tak bisa dipisahkan dari keberadaan mangrove. Mangrove juga merupakan rumah tempat bermukim bekantan. Penasaran untuk melihat seperti apa bekantan itu, sayapun memberanikan diri masuk kedalam kawasan mangrove. Jangan bayangkan jalanan tanah yang mulus. Air dan ranting tajam serta binatang kecil berhamparan di dasar pijakan kaki. Tetapi lelah itu pun terbayar. Individu Bekantan yang berwarna kuning kecoklatan dan memiliki ekor berwarna putih serta berhidung mancung ini pun sedang tampak berkoloni, dengan satu bekantan jantan dewasa yang berukuran kira –kira 1 meter berada di puncak pohon tertinggi. Namun setelah melihat secara langsung individu itu,  Dermawan pun berkisah, dilokasi ini dulunya banyak sekali habitat bekantan, namun akibat dijadikan persawahan oleh warga sekitar dan bekantan pun diburu, habitatnya pun berpindah serta berkurang.  “ Kalo dilokasi ini sebenarnya bekantan semua ini, namun akhirnya sudah dijadikan persawahan oleh masyarakat , untuk itu kita coba mengamankan pulau ini, tidak boleh diganggu lagi”, kisah Dermawan. Keberpihakan untuk melindungi satwa dilindungi dan endemik kalimantan ini pun dilakukan Rahmad. Pria berumur 50 tahun ini , pun sadar betul jika Bekantan atau Kalilaek merupakan satwa dilindungi, dan ia akan menjaga satwa ini, agar bisa dilihat oleh keturunan nya kelak,  “ jadi ini kan hanya dipaloh yang ada , di tempat yang lain –lain nggak ada, jadi rasa kepingin melindunginya, apalagi ini kan sudah langka “, tegasnya.
Kembali ke Dermawan, Ia pun berkisah jika, Populasi bekantan ini sendiri , memang sudah terbilang berkurang. Dermawan bercerita, jika semasa kecil dulu, bahkan Bekantan sangat sering terlihat berada di tepi jalan Kecamatan Paloh dan bergelantungan di pohon. Namun sekarang habitatnya mulai berkurang. Dalam 1 koloni saja biasanya terdapat 10 hingga 20 bekantan, sekarang tinggal 5 hingga 9 bekantan yang terlihat. Dari hasil penelitian yang dilakukan kelompoknya, secara manual dan ilmu sederhana, ia mencatat jika bekantan memakan daun –daunan , tidak merusak tanaman, dan juga hidup berkoloni dan bisa menyingkirkan anggota koloni nya,  penyebaran die ada didalam , kalo sore biasa , dia cari makan diluar. (pernah digangu bekantan ndak ni bang ?) alhamdulilah gak pernah , mungkin mengerti kali dia”, ujarnya sembari tertawa.  Ekspoloitasi terhadap mangrove sendiri selain menghilangkan ikan dan habitat lain , yang hidup di dalam kawasan hutan mangrove juga bisa mempengaruhi populasi bekantan.
Bekantan, spesies yang paling terancam.

  
Tak puas untuk mencari tahu sebaran bekantan , saya pun bertolak kembali ke Pontianak , yang jaraknya cukup memakan waktu berkendara selama 7 jam . Tak hanya berkendara, dari kawasan Kecamatan Paloh menuju ke Kota Sambas saja, harus menggunakan sampan motor , yang memuat kendaraan roda dua diatas nya, ataupun bisa mengunakan Kapal Ferry jika menggunakan roda empat atau lebih. Sesampainya di Pontianak , Project Manager WWF Indonesia Wilayah Kalbar Albertus Tjiu menyambut saya dan bercerita banyak soal mangrove dan bekantan serta habitat yang hidup didalam kawasan hutan tersebut. “ Kalo untuk sampai di skala nasional , saat ini data mengena populasi bekantan yang up to date itu tidak ada , bahkan di draft strategi rencana aksi konservasi bekantan , itu tidak diupdate informasi bekantan di Seluruh Indonesia, termasuk yang di  kita yang di kalbar , kita pernah punya informasi dari Danau Sentarum tapi itu juga tidak up to date “, Ujarnya. Selain itu Albertus juga mengungkapkan , jika Spesies Bekantan adalah spesies yang paling terancam , bahkan jika kawasan huma atau rumah bekantan yakni di danau air tawar dan kawasan mangrove ini tidak terjaga dengan baik, maka kemungkinan besar Bekantan bisa punah, “ dia lebih terancam ketimbang spesies kunci lainnya , karena dia ini hanya berada di daerah ekotom . Ekotom ini adalah pertemuan antara kawasan perairan tawar dan asin , itu di daerah mangrove, dan kemudian ada disekitar danau –danau air tawar misalnya di danau sentarum . Jadi kalo bicara habitat dia jauh lebih terancam , jadi kalau habitat nya dan populasinya di kombinasikan , dipastikan dia bisa punah “, tegas Albert.  Menurutnya lagi, ancaman ini bukan hanya dari pembabatan hutan mangrove yang menjadi rumah nya bekantan , dan habitat lain seperti ikan , kepah , kepiting dan tengkuyung , melainkan bisa juga datang dari manusia , yang memburu bekantan untuk dimakan ataupun menjadi umpan kepiting dan labi –labi, “ ancaman nya itu kan ada dua ya, ancaman tidak langsung terhadap habitat , ketika habitat hilang otomatis makanan yang tadi juga tidak ada lagi kan . Ketika tidak ada makanan , kemungkinan besar dia kelaparan dan kalopun dia mengungsi ke dataran tinggi kemungkinan besar tidak ada makanan yang cocok bagi dia, yang kedua populasi. ancaman dari poppulasi langsung ini biasanya bekantan ini ditembak untuk umpan macam –macam begitu , misalnya kalo disambas untuk umpan kepiting , jadi kombinasi antara kedua ancaman langsung dan tidak langsung ini, akan jauh lebih serius”, terangnya. Jika ditarik garis lurus antara hubungan bekantan dan mangrove , apa sebenarnya yang mengaitkan mereka? Albertus Tjiu pun kembali menjelaskan dengan detail soal itu, “itukan bicara antara tentang jenis satwa liar dan rumahnya, mangrove merupakan salah satu dari dua kawasan penting yang menjadi habitatnya bekantan. Begitu mangrovenya dikonversi untuk menjadi tambak , maka sumber makanan nya hilang, jika sumber makanan hilang populasi pasti terancam. Karena sebagian besar kehidupan mereka ini digunakan untuk cari makan”, Ungkapnya. Namun terlepas dari itu , kebijakan politik ekologi lah yang bisa membuat semua jenis spesies yang dilindungi dan ternacam punah ini bisa tetap bertahan. Yakni adanya kebijakan tata ruang yang baik , dan tidak disalah gunakan untuk kepentingan ekspansi perkebunan monokultur, ataupun industri ekstrakti,  “ancaman terhadap banyak spesies tidak hanya bekantan , itu harusnya ditaruh pada tataran kebijakan, terkait dengan tata ruang kalo tata ruang dibuat dengan tidak mengakomodir satwa liar tertentu seperti bekantan , misalnya kawasan mangrove dikonversi sebagai tambak, itu akan menjadi ancaman utama “, terangnya. Terlepas dari itu, lontaran pujian pun dinyatakan Albertus untuk pekerjan sukarela yang dilakukan oleh Kelompok Kalilaek di Paloh. Menurutnya, apa yang dilakukan Dermawan dan kawan –kawan merupakan bentuk lain dari kesadaran akan pentingnya mangrove yang dihubungkan dengan perekonomian nelayan disana, “ dan tentu masyarakat pasti akan melindungi mangrove , kalo mereka selama ini mendapatkan penghidupan dari sana. seperti nelayan kepiting , ikan dan udang , mereka pasti akan bilang kami akan menjaga mangrove karena mangrove memberikan penghidupan buat kami” ,Ujarnya. Albertus pun berupaya untuk mengajak seluruh masyarakat berkonsep dan bertindak yang sama seperti yang dilakukan Kelompok Kalilaek,  “kalau mereka menyadari itu dan berhubungan dengan isu konservasi, saya yakin bahwa gerakan –gerakan kecil diseluruh nusantara ini , akan membuat suatu pencapaian yang sangat luar biasa besar. Sebenarnya kita berharap ini akan menjadi suatu tujuan ketika masyarakat sejahtera , dan lingkungan terjaga mestinya”, tutup Albertus. (edo c.22)  
http://rri.co.id/pontianak/post/berita/133588/daerah/penyelamat_mangrove_dan_bekantan_dari_paloh_sambas_kalbar.html




0 komentar:

Posting Komentar

Penyelamat MANGROVE dan BEKANTAN dari Paloh Sambas KALBAR